I once took a day off not because I was sick, but because I genuinely couldn't function normally after how a conversation had gone the day before. I didn't have language for that at the time, so I typed something vague into the leave request form and hoped nobody would ask for details I wasn't ready to give.
Saya pernah ambil cuti sehari bukan karena sakit, tapi karena saya beneran nggak bisa berfungsi normal setelah percakapan yang terjadi sehari sebelumnya. Waktu itu saya nggak punya kata-kata buat menjelaskan itu, jadi saya cuma mengetik sesuatu yang samar di formulir cutinya dan berharap nggak ada yang menanyakan detail yang belum siap saya berikan.
I would call it what it was, an emotional injury that needed a day to settle, the same way a physical one would. I don't think that requires an explanation to be valid. It also doesn't need to be dramatic to be real, a quiet ache is still an ache, even when nobody else can see the bruise.
Sekarang saya bisa menyebutnya apa adanya, sebuah luka emosional yang butuh sehari buat mereda, sama kayak luka fisik yang butuh waktu buat sembuh. Saya rasa itu nggak butuh penjelasan buat dianggap valid. Itu juga nggak perlu dramatis dulu supaya dianggap nyata, nyeri yang tenang tetap nyeri, bahkan waktu nggak ada yang bisa melihat memarnya.
I leaned on a quiet spiritual trust that day, that tending to myself honestly, without needing to justify it to anyone, was not selfishness but a kind of care I owed myself the same way I'd offer it to anyone I loved without a second thought. I couldn't control what had been said in that conversation, or undo how it had landed. I could control whether I gave myself an honest day to let it settle instead of pretending, for the sake of appearances, that I was fine.
Hari itu saya berpegang ke kepercayaan spiritual yang tenang, bahwa merawat diri sendiri dengan jujur, tanpa perlu membenarkannya ke siapa pun, bukan keegoisan tapi semacam kepedulian yang saya utang ke diri saya sendiri, sama seperti yang akan saya tawarkan ke siapa pun yang saya cintai tanpa berpikir dua kali. Saya nggak bisa mengendalikan apa yang dikatakan di percakapan itu, atau membatalkan bagaimana itu mendarat. Saya bisa mengendalikan apakah saya memberi diri saya sendiri sehari yang jujur buat membiarkan itu mereda, alih-alih berpura-pura, demi tampilan, kalau saya baik-baik saja.
"An emotional injury doesn't need to look dramatic to deserve a day to recover from it. Tending to yourself honestly is a kind of care you owe yourself too." "Luka emosional nggak perlu kelihatan dramatis dulu supaya pantas dapat sehari waktu pemulihan. Merawat diri sendiri dengan jujur adalah kepedulian yang juga kamu utang ke diri sendiri."
I still take those days now, when I need them. I've stopped needing a better reason than that, and I've noticed that giving myself that same grace has made me quicker to offer it to others too, a colleague who's clearly not okay doesn't need to explain why before I make space for them.
Sampai sekarang saya masih ambil hari-hari itu, kalau memang butuh. Saya udah berhenti mencari alasan yang lebih "layak" dari itu, dan saya sadar memberi diri sendiri kelapangan hati yang sama bikin saya lebih cepat menawarkannya ke orang lain juga, seorang rekan kerja yang jelas-jelas nggak baik-baik saja nggak perlu menjelaskan alasannya dulu sebelum saya membuka ruang buat mereka.