← All letters
The Empty Table

Calling Home to Ask If I Was Wrong

May 2026·7 min read
English & Bahasa Indonesia

I called my parents more times than I could count during that stretch, asking, in one form or another, the same question every time: did I do the right thing, standing my ground the way I had. I already knew the answer most of the time. I called anyway, because some kinds of certainty need to be heard out loud by someone who loves you, not just privately believed.

Saya menelepon orang tua saya lebih sering dari yang bisa saya hitung selama masa itu, menanyakan, dalam berbagai bentuk, pertanyaan yang sama tiap kali: apakah saya melakukan hal yang benar, dengan tetap teguh berdiri di posisi saya. Kebanyakan waktu saya sudah tahu jawabannya. Saya tetap menelepon, karena sebagian kepastian perlu didengar dengan lantang dari seseorang yang mencintaimu, bukan cuma dipercayai secara pribadi.

Why I needed to hear it from them specificallyKenapa saya perlu mendengarnya dari mereka secara khusus

It wasn't that I doubted my own judgment exactly. It was that standing alone in a difficult situation, day after day, slowly wears down even a decision you're confident in, and I needed the voices of the two people who'd known me longest to remind me I wasn't imagining the unfairness of it, that I hadn't overreacted, that holding a boundary under pressure was still the right thing even when it was costing me visibly.

Bukan berarti saya benar-benar meragukan penilaian saya sendiri. Itu karena berdiri sendirian di situasi yang sulit, hari demi hari, perlahan mengikis bahkan keputusan yang kamu yakini, dan saya butuh suara dari dua orang yang paling lama mengenal saya buat mengingatkan saya kalau saya nggak sedang membayangkan ketidakadilannya, bahwa saya nggak bereaksi berlebihan, bahwa mempertahankan sebuah batasan di bawah tekanan tetap hal yang benar bahkan waktu itu jelas-jelas ada harganya.

What their support actually did for meYang beneran dilakukan dukungan mereka buat saya

I leaned on a quiet gratitude every time we hung up, an appreciation for the specific kind of love that doesn't try to fix the situation for you, only reflects back that you're not crazy for how you're seeing it. My parents never once told me I was wrong to hold my ground, not a single time, across every single one of those calls, and that consistency became something close to a spiritual anchor for me, proof that unconditional support is real, not just a phrase, when it's tested this many times in a row.

Saya berpegang ke rasa syukur yang tenang tiap kali kami menutup telepon, penghargaan buat jenis cinta yang spesifik yang nggak mencoba memperbaiki situasinya buat kamu, cuma memantulkan balik kalau kamu nggak gila karena melihatnya seperti itu. Orang tua saya nggak pernah sekali pun bilang saya salah karena tetap teguh berdiri, nggak sekali pun, di semua telepon itu, dan konsistensi itu jadi sesuatu yang dekat dengan jangkar spiritual buat saya, bukti bahwa dukungan tanpa syarat itu nyata, bukan cuma sekadar kata, waktu diuji sebanyak ini secara berturut-turut.

"Some kinds of certainty need to be heard out loud by someone who loves you, not just privately believed. Unconditional support is real, not just a phrase, when it's tested this many times in a row." "Sebagian kepastian perlu didengar dengan lantang dari seseorang yang mencintaimu, bukan cuma dipercayai secara pribadi. Dukungan tanpa syarat itu nyata, bukan cuma sekadar kata, waktu diuji sebanyak ini secara berturut-turut."

What I learned about asking for reassuranceYang saya pelajari soal meminta ketenangan

I used to think needing that much reassurance meant I was somehow weaker than I should have been. I don't believe that anymore. Reaching for the people who love you unconditionally, again and again, while you're carrying something heavy, isn't a failure of independence, it's one of the wiser things a person can do, and I'm genuinely grateful I had two people I could call that many times without ever once feeling like a burden to them.

Dulu saya pikir butuh ketenangan sebanyak itu berarti saya entah bagaimana lebih lemah dari yang seharusnya. Saya udah nggak lagi percaya itu. Meraih orang-orang yang mencintaimu tanpa syarat, berulang kali, sementara kamu membawa sesuatu yang berat, itu bukan kegagalan kemandirian, itu salah satu hal paling bijaksana yang bisa dilakukan seseorang, dan saya beneran bersyukur punya dua orang yang bisa saya telepon sesering itu tanpa pernah sekali pun merasa jadi beban buat mereka.

Those calls didn't change what I was going through. They changed how steady I felt while going through it, and that steadiness, borrowed from two people who never once wavered, carried me further than I think I could have carried myself alone.

Telepon-telepon itu nggak mengubah apa yang saya jalani. Itu mengubah seberapa mantap perasaan saya sambil menjalaninya, dan kemantapan itu, dipinjam dari dua orang yang nggak pernah sekali pun goyah, membawa saya lebih jauh dibanding yang rasanya bisa saya bawa sendirian.

Has something like this shaped how you see work now? I'd like to hear it, drop it in the comments or reach out.

Ada momen kerja yang mengubah cara pandangmu juga? Cerita di komentar atau hubungi saya langsung.
Read it your way
Lens
Mode
Density
Try Recruiter + Compact for a 30-second skim.