← All letters
The Handover

What It Taught Me About Carrying Other People's Uncertainty Gently

January 2026·7 min read
English & Bahasa Indonesia

Holding someone else's uncertainty without making it about my own feelings took real practice, more than I expected going into that season. I thought empathy was just a matter of caring enough. I learned it was also a skill, one that had to be trained deliberately, the same way any other kind of steadiness does.

Menahan ketidakpastian orang lain tanpa menjadikannya soal perasaan saya sendiri butuh latihan yang nyata, lebih dari yang saya duga waktu memasuki musim itu. Saya kira empati itu cuma soal cukup peduli. Saya belajar itu juga sebuah skill, yang harus dilatih dengan sengaja, sama seperti jenis ketenangan lainnya.

The difference between holding it and absorbing itPerbedaan antara menahan dan menyerapnya

Holding someone's fear meant staying present with it without needing to fix it immediately or make it smaller than it was. Absorbing it meant taking it home with me, replaying their worry in my own head long after the conversation ended, which I did far too often before I learned the difference. Some nights I'd realize I was carrying three or four different people's anxieties at once, none of which were actually mine to solve.

Menahan rasa takut seseorang berarti tetap hadir bersamanya tanpa harus buru-buru memperbaikinya atau membuatnya kelihatan lebih kecil dari yang sebenarnya. Menyerapnya berarti membawanya pulang, memutar ulang kekhawatiran mereka di kepala saya sendiri lama setelah percakapannya berakhir, yang terlalu sering saya lakukan sebelum akhirnya belajar bedanya. Beberapa malam saya sadar saya sedang membawa kecemasan tiga atau empat orang berbeda sekaligus, yang sebenarnya nggak satu pun jadi tanggung jawab saya buat diselesaikan.

What helped me let go of what wasn't mineYang membantu saya melepaskan apa yang bukan milik saya

What helped was a stoic reminder I started repeating to myself at the end of each day: their fear belongs to them, and my job was only to be a steady presence while they moved through it, not to carry it forward once the conversation ended. I also trusted, in a quieter way, that simply being present with someone's uncertainty, without trying to control the outcome, was itself a form of care that mattered, even if I never saw the result of it.

Yang membantu adalah pengingat stoa yang mulai saya ulangi ke diri sendiri di akhir setiap hari: rasa takut mereka itu milik mereka, dan tugas saya cuma jadi kehadiran yang stabil selagi mereka melewatinya, bukan membawanya lanjut begitu percakapannya berakhir. Saya juga percaya, dengan cara yang lebih tenang, bahwa sekadar hadir bersama ketidakpastian seseorang, tanpa mencoba mengendalikan hasilnya, itu sendiri sudah jadi bentuk kepedulian yang berarti, bahkan kalau saya nggak pernah melihat hasilnya.

"Their fear belongs to them. My job is only to be a steady presence while they move through it, not to carry it forward afterward." "Rasa takut mereka itu milik mereka. Tugas saya cuma jadi kehadiran yang stabil selagi mereka melewatinya, bukan membawanya lanjut setelahnya."

Why I kept showing up for it anywayKenapa saya tetap hadir buat itu

Even with that boundary in place, I never stopped actually wanting to be there for people. That's really the heart of it, I love people enough that their fear genuinely matters to me, and I wanted to be someone they could bring it to safely. The boundary didn't make me care less. It just meant I could care sustainably, without quietly burning out the part of me that made me good at it in the first place.

Bahkan dengan batasan itu ada, saya nggak pernah berhenti beneran ingin ada buat orang lain. Itu sebenarnya intinya, saya mencintai orang cukup besar sampai rasa takut mereka beneran berarti buat saya, dan saya ingin jadi orang yang bisa mereka datangi dengan aman buat itu. Batasan itu nggak bikin saya peduli lebih sedikit. Itu cuma berarti saya bisa peduli secara berkelanjutan, tanpa diam-diam membakar habis bagian dari diri saya yang justru bikin saya bagus di situ sejak awal.

I got better at that distinction one conversation at a time. It's a skill I still use, in very different rooms now, and it's one of the ones I'm most grateful that season taught me.

Saya makin jago membedakan itu satu percakapan demi satu percakapan. Itu skill yang masih saya pakai, di ruangan-ruangan yang sangat berbeda sekarang, dan itu salah satu yang paling saya syukuri diajarkan musim itu.

Has something like this shaped how you see work now? I'd like to hear it, drop it in the comments or reach out.

Ada momen kerja yang mengubah cara pandangmu juga? Cerita di komentar atau hubungi saya langsung.
Read it your way
Lens
Mode
Density
Try Recruiter + Compact for a 30-second skim.