Nobody would have blamed me for walking away sooner than I did. I finished it anyway, quietly, without announcing the decision to anyone, because the reason for finishing was never really about what anyone else would think of the timing.
Nggak akan ada yang menyalahkan saya kalau saya pergi lebih cepat dari yang saya lakukan. Tapi saya tetap menyelesaikannya, diam-diam, tanpa mengumumkan keputusan itu ke siapa pun, karena alasan buat menyelesaikannya sebenarnya nggak pernah soal apa yang akan dipikirkan orang lain soal waktunya.
I finished it because I wanted the closing chapter to be mine to write, not something that just happened to me while I was somewhere else mentally. That distinction mattered more to me than almost anything else in that final stretch, the difference between authoring an ending and merely surviving until one arrived.
Saya menyelesaikannya karena saya mau bab penutup itu jadi sesuatu yang saya tulis sendiri, bukan sesuatu yang cuma terjadi ke saya sementara pikiran saya ada di tempat lain. Perbedaan itu lebih penting buat saya dibanding hampir apa pun di periode terakhir itu, perbedaan antara mengarang sebuah akhir dan sekadar bertahan sampai satu akhir tiba dengan sendirinya.
I leaned on a stoic belief that the only audience whose judgment I ultimately answer to is my own, and that a chapter finished with integrity, regardless of whether anyone else notices the effort, leaves behind a cleaner kind of peace than one abandoned midway. I also trusted, more spiritually, that finishing something well, even something hard, was a form of respect I owed the people and the work I'd genuinely cared about, a last act of love before letting go completely.
Saya berpegang ke keyakinan stoa bahwa satu-satunya penonton yang penilaiannya akhirnya saya pertanggungjawabkan adalah diri saya sendiri, dan bab yang diselesaikan dengan integritas, terlepas dari apakah ada orang lain yang menyadari usahanya, meninggalkan kedamaian yang lebih bersih dibanding yang ditinggalkan setengah jalan. Saya juga percaya, dengan cara yang lebih spiritual, bahwa menyelesaikan sesuatu dengan baik, bahkan sesuatu yang berat, adalah bentuk penghormatan yang saya utang ke orang-orang dan pekerjaan yang beneran saya pedulikan, tindakan cinta terakhir sebelum melepaskannya sepenuhnya.
"An ending you write yourself feels entirely different from one that just happens to you. Finishing well is a last act of love before letting go completely." "Akhir cerita yang kamu tulis sendiri terasa jauh berbeda dari akhir yang cuma terjadi ke kamu. Menyelesaikan dengan baik adalah tindakan cinta terakhir sebelum melepaskan sepenuhnya."
Nobody was keeping score of how I finished. I was, and that was reason enough, and looking back now, that private, unwitnessed accounting has turned out to matter more to my sense of who I am than almost any external recognition I've ever received.
Nggak ada yang mencatat bagaimana cara saya menyelesaikannya. Saya sendiri yang mencatat, dan itu sudah cukup jadi alasan, dan kalau dilihat lagi sekarang, perhitungan pribadi yang nggak disaksikan itu ternyata lebih berarti buat rasa saya tentang siapa saya dibanding hampir semua pengakuan eksternal yang pernah saya terima.