← All letters
Monday-Friday Life

How I Learned to Kill Bad Meetings: A PM's Field Notes

August 2026·7 min read
English & Bahasa Indonesia

There's a specific kind of tired that comes from a meeting that should have been an email. I used to sit through them convinced this was just what work looked like: forty five minutes, eight people, one decision that could have fit in a two line message, and I didn't question it for years because everyone around me seemed to accept it as the cost of doing business.

Ada satu jenis capek yang khusus muncul dari meeting yang sebenarnya cukup jadi email. Dulu saya duduk di situ dan mikir ini emang begini adanya dunia kerja: empat puluh lima menit, delapan orang, satu keputusan yang sebenarnya cukup ditulis dalam dua baris pesan, dan saya nggak pernah mempertanyakannya selama bertahun-tahun karena semua orang di sekitar saya keliatannya menerima itu sebagai biaya yang wajar dari bekerja.

The default is always another meetingDefaultnya selalu bikin meeting lagi

Nobody schedules a meeting to waste time on purpose. It happens because a meeting feels like progress even when it isn't. Writing a clear, decision ready message takes real effort, you have to know exactly what you're asking for. A meeting lets everyone postpone that clarity and figure it out out loud instead, together, in real time, at the cost of everyone else's calendar, a cost that's almost never visible on any budget anyone actually tracks.

Nggak ada yang bikin meeting dengan niat buang-buang waktu. Itu terjadi karena meeting terasa seperti progress, padahal belum tentu. Nulis pesan yang jelas dan siap diputuskan itu butuh usaha beneran, kita harus tahu persis apa yang mau diminta. Meeting bikin semua orang bisa nunda kejelasan itu dan mikirin bareng-bareng secara langsung, dengan mengorbankan waktu semua orang di kalender, biaya yang hampir nggak pernah terlihat di anggaran mana pun yang beneran dilacak orang.

Three questions before I schedule anything nowTiga pertanyaan sebelum saya bikin meeting sekarang

What decision actually needs to be made, not just what could be discussed. Who genuinely needs to be in the room to make that decision, not who might find it interesting. And could this survive being written down first, sent ahead, so the meeting starts at the disagreement instead of the explanation. Most of the time, that third question alone kills the meeting entirely, and the first few times I asked it out loud in front of a team, I noticed relief on more faces than I expected.

Keputusan apa yang beneran perlu diambil, bukan sekadar apa yang bisa didiskusikan. Siapa yang beneran perlu ada di ruangan itu untuk mengambil keputusan itu, bukan siapa yang mungkin tertarik. Dan apakah ini bisa ditulis dulu, dikirim duluan, supaya meeting-nya langsung mulai dari titik yang beda pendapat, bukan dari penjelasan dari nol. Kebanyakan, pertanyaan ketiga ini aja udah bikin meeting-nya batal total, dan beberapa kali pertama saya mengucapkannya keras-keras di depan tim, saya menyadari rasa lega di lebih banyak wajah dari yang saya duga.

"A meeting is expensive in a way an email never is. It costs everyone's attention at the same time, not just the reader's." "Meeting itu mahal dengan cara yang nggak pernah dimiliki email. Biayanya adalah perhatian semua orang di waktu yang sama, bukan cuma waktu si pembaca."

What changed when I started askingYang berubah begitu saya mulai nanya

Fewer meetings, but sharper ones. The ones that survived the three questions actually needed a room, and everyone in that room already knew why they were there. Status updates moved into writing, where people could read them at three times the speed and skip what didn't apply to them. What was left was decision making, which is the only thing a meeting is actually good for, and reclaiming those lost hours gave people back something I don't think they knew how much they'd missed, actual focus time.

Meeting-nya jadi lebih sedikit, tapi jauh lebih tajam. Yang lolos dari tiga pertanyaan itu emang beneran butuh ruangan, dan semua orang di ruangan itu udah tahu kenapa mereka ada di situ. Update status pindah ke tulisan, orang bisa baca tiga kali lebih cepat dan lewatin bagian yang nggak relevan buat mereka. Yang tersisa cuma pengambilan keputusan, satu-satunya hal yang beneran cocok dilakukan lewat meeting, dan mendapatkan kembali jam-jam yang hilang itu ngasih orang-orang sesuatu yang saya rasa mereka nggak sadar seberapa mereka rindukan, waktu fokus yang beneran.

None of this makes meetings the enemy. It just means treating a meeting as a real cost instead of a free default, the same way I'd treat any other resource on a project, and my team's calendars, and their evenings, have been noticeably lighter for it ever since.

Ini bukan berarti meeting itu musuh. Ini cuma soal memperlakukan meeting sebagai biaya yang beneran nyata, bukan pilihan default yang gratis, sama seperti cara saya memperlakukan resource lain di sebuah proyek, dan kalender tim saya, dan malam-malam mereka, terasa jauh lebih ringan sejak itu.

What's your most "this could've been an email" moment? Tell me about it in the comments or on LinkedIn.

Apa momen "ini mah cukup jadi email" paling parah yang pernah kamu alami? Cerita di komentar atau di LinkedIn ya.
Read it your way
Lens
Mode
Density
Try Recruiter + Compact for a 30-second skim.