I kept telling myself it was temporary, just until the transition settled. The settling took a lot longer than I expected, and somewhere in the middle of that stretch, weeks started blurring into each other in a way that made it hard to remember what a normal Sunday had ever felt like.
Saya terus bilang ke diri sendiri ini cuma sementara, sampai transisinya mereda. Ternyata meredanya butuh waktu jauh lebih lama dari yang saya kira, dan di tengah-tengah masa itu, minggu-minggu mulai kabur satu sama lain sampai saya susah mengingat rasanya hari Minggu yang normal.
"Just until" is a dangerous phrase, because it lets you postpone rest indefinitely without ever admitting that's what you're doing. I said it to myself for months, and each month there was a new reason the settling hadn't happened yet, a new document, a new person still adjusting, a new fire that needed putting out before I could finally exhale. Looking back, I can see how easily that phrase let me keep moving the goalpost without ever noticing I was doing it.
"Cuma sampai" itu kalimat yang berbahaya, karena itu bikin kamu bisa menunda istirahat tanpa batas waktu tanpa pernah mengakui itu yang sebenarnya terjadi. Saya bilang itu ke diri sendiri selama berbulan-bulan, dan setiap bulan selalu ada alasan baru kenapa peredaannya belum juga terjadi, dokumen baru, orang baru yang masih menyesuaikan diri, kebakaran baru yang harus dipadamkan sebelum saya akhirnya bisa bernapas lega. Kalau diingat lagi, saya bisa lihat betapa gampangnya kalimat itu bikin saya terus menggeser garis finish tanpa pernah menyadarinya.
There's a stoic idea I found myself returning to during that stretch, that suffering through something without complaint isn't automatically noble if it's optional suffering. I hadn't fully separated the two before, work that genuinely needed me right then, and work I was simply too afraid to set down. Once I made that distinction, I stopped treating every tired evening as proof of my dedication, and started asking, honestly, whether the exhaustion was actually necessary or just habitual.
Ada ide stoa yang terus saya kembali datangi selama masa itu, bahwa menderita lewat sesuatu tanpa mengeluh itu nggak otomatis mulia kalau penderitaan itu sebenarnya pilihan. Saya belum sepenuhnya memisahkan dua hal itu sebelumnya, pekerjaan yang beneran butuh saya saat itu juga, dan pekerjaan yang cuma saya takut lepaskan. Begitu saya membuat perbedaan itu, saya berhenti memperlakukan setiap malam yang lelah sebagai bukti dedikasi saya, dan mulai bertanya, dengan jujur, apakah kelelahannya beneran perlu atau cuma kebiasaan.
"Suffering through something isn't automatically noble if it's optional suffering." "Menderita lewat sesuatu itu nggak otomatis mulia kalau penderitaan itu sebenarnya pilihan."
Even knowing that, I still pushed through most of it, because the people depending on that transition landing well were real people I cared about, not an abstraction on a project plan. That care is what actually carried me, more than any deadline did. I've never been someone who can watch people struggle and just clock out at five. If I'm honest, that's less a professional strength than it is just how I love people, fully, sometimes past the point that's healthy for me.
Bahkan mengetahui itu, saya tetap memaksakan diri lewat sebagian besar masa itu, karena orang-orang yang mengandalkan transisi itu berjalan baik adalah orang-orang nyata yang saya pedulikan, bukan sekadar abstraksi di rencana proyek. Kepedulian itulah yang sebenarnya membawa saya melewatinya, lebih dari deadline mana pun. Saya nggak pernah jadi orang yang bisa melihat orang lain berjuang lalu pulang jam lima begitu aja. Kalau saya jujur, itu bukan sepenuhnya kekuatan profesional, itu cuma cara saya mencintai orang, sepenuhnya, kadang melewati batas yang sehat buat saya.
I eventually gave myself a real day off, not because the work was done, but because I decided it was allowed to not be done for one day. That single day mattered more than I expected. I remember sitting outside for no reason, doing genuinely nothing productive, and feeling a kind of relief I hadn't let myself feel in months. It reminded me that rest wasn't a reward I had to earn by finishing everything first, it was something I was allowed to simply take.
Akhirnya saya kasih diri sendiri satu hari libur beneran, bukan karena kerjaannya udah selesai, tapi karena saya memutuskan boleh aja itu belum selesai selama satu hari. Satu hari itu artinya lebih besar dari yang saya duga. Saya ingat duduk di luar tanpa alasan, benar-benar nggak melakukan apa-apa yang produktif, dan merasakan kelegaan yang belum saya izinkan buat dirasakan selama berbulan-bulan. Itu mengingatkan saya kalau istirahat bukan hadiah yang harus saya dapatkan dulu dengan menyelesaikan segalanya, itu sesuatu yang boleh aja saya ambil begitu saja.
I still think about that season with some pride, not because I never rested, but because when I finally did, I let myself actually enjoy it instead of feeling guilty through it. That, more than the exhaustion, is what I choose to remember.
Saya masih memikirkan musim itu dengan sedikit rasa bangga, bukan karena saya nggak pernah istirahat, tapi karena waktu akhirnya saya istirahat, saya membiarkan diri sendiri beneran menikmatinya, bukannya merasa bersalah sepanjang waktu itu. Itu, lebih dari kelelahannya, adalah yang saya pilih buat diingat.