I was suddenly questioned for something I didn't even know was in question, pulled into an accountability I hadn't been part of building. One moment I was simply present in a meeting, and the next I was somehow at the center of a discussion I could only partly follow, with no history of how it had started.
Saya tiba-tiba dipertanyakan soal sesuatu yang bahkan nggak saya tahu sedang dipertanyakan, ditarik ke sebuah pertanggungjawaban yang bukan saya yang ikut membangunnya. Satu momen saya cuma hadir di sebuah meeting, dan momen berikutnya saya entah bagaimana ada di pusat sebuah diskusi yang cuma bisa saya ikuti sebagian, tanpa tahu bagaimana itu dimulai.
You can't properly defend a position you didn't know you were supposed to be holding. All I could do was stay honest about what I actually knew, and let the gaps in my knowledge speak for themselves, even though every instinct in me wanted to fill those gaps with something, anything, just to stop feeling so exposed in front of everyone.
Kamu nggak bisa benar-benar membela posisi yang bahkan nggak kamu tahu harus kamu pegang. Yang bisa saya lakukan cuma tetap jujur soal apa yang beneran saya tahu, dan biarkan celah dalam pengetahuan saya bicara sendiri, walaupun setiap insting saya ingin mengisi celah itu dengan sesuatu, apa pun, cuma supaya berhenti merasa serentan itu di depan semua orang.
I leaned on a stoic distinction that steadied me in the moment: I could control the accuracy of what I said, but I couldn't control whether people believed it or found it satisfying. Once I separated those two things, the pressure to perform certainty I didn't have quietly lifted. I also trusted, in a quieter way, that truth eventually settles its own accounts, even when it isn't rewarded immediately in the room where it's spoken.
Saya berpegang ke pembedaan stoa yang menenangkan saya di momen itu: saya bisa mengendalikan keakuratan apa yang saya katakan, tapi saya nggak bisa mengendalikan apakah orang mempercayainya atau menganggapnya memuaskan. Begitu saya memisahkan dua hal itu, tekanan buat memerankan kepastian yang nggak saya punya diam-diam terangkat. Saya juga percaya, dengan cara yang lebih tenang, bahwa kebenaran akhirnya menyelesaikan hitungannya sendiri, bahkan waktu itu nggak langsung dihargai di ruangan tempat itu diucapkan.
"I could control the accuracy of what I said, but not whether people found it satisfying. Truth settles its own accounts eventually, even if not immediately." "Saya bisa mengendalikan keakuratan apa yang saya katakan, tapi bukan apakah orang menganggapnya memuaskan. Kebenaran akhirnya menyelesaikan hitungannya sendiri, walaupun nggak langsung."
What kept me from becoming defensive or cold in that moment was remembering that everyone else in that room was also just trying to make sense of a confusing situation, not out to get me personally. My care for the people around me, even the ones who were unintentionally putting me in a hard spot, kept me responding with patience instead of defensiveness. That instinct to extend grace even while uncomfortable has rarely, if ever, let me down.
Yang menjaga saya supaya nggak jadi defensif atau dingin di momen itu adalah mengingat bahwa semua orang lain di ruangan itu juga cuma sedang mencoba memahami situasi yang membingungkan, bukan sengaja menyerang saya secara pribadi. Kepedulian saya ke orang-orang di sekitar saya, bahkan yang tanpa sengaja menaruh saya di posisi sulit, menjaga saya tetap merespons dengan sabar, bukan defensif. Insting buat tetap memberi kelapangan hati walaupun nggak nyaman itu jarang sekali, kalau pernah, mengecewakan saya.
I let the confusion be visible instead of pretending I had answers I didn't. That honesty felt exposed in the moment, but it was the only thing I actually had to offer, and looking back, I'm proud that even under pressure, I stayed someone I recognized.
Saya membiarkan kebingungan itu terlihat, bukannya berpura-pura punya jawaban yang sebenarnya nggak saya punya. Kejujuran itu terasa rentan di momen itu, tapi itu satu-satunya hal yang beneran bisa saya tawarkan, dan kalau diingat lagi, saya bangga bahkan di bawah tekanan, saya tetap jadi diri yang saya kenali.