There's a strange quiet in the early weeks of a role that hasn't fully taken shape yet, useful in small ways before anyone, including you, understands what you're actually there to do. I remember checking my inbox obsessively that first month, half hoping for clarity, half afraid of what it might say about how replaceable I was in the meantime.
Ada kesunyian aneh di minggu-minggu awal sebuah peran yang belum sepenuhnya terbentuk, berguna dengan cara-cara kecil sebelum ada yang, termasuk kamu sendiri, benar-benar paham kamu ada di situ buat apa. Saya ingat mengecek inbox saya secara obsesif di bulan pertama itu, setengah berharap ada kejelasan, setengah takut apa yang mungkin dikatakannya soal seberapa mudah saya tergantikan sementara itu.
I filled that early quiet with whatever needed doing, without waiting for permission or a formal scope. It felt aimless at the time, picking up loose threads nobody else had time for, offering to help with things technically outside my job description. Looking back, it was actually how I learned the shape of the place faster than any onboarding document could have taught me, because I ended up touching almost every part of it before I officially belonged to any single part.
Saya mengisi kesunyian awal itu dengan apa pun yang perlu dikerjakan, tanpa nunggu izin atau ruang lingkup resmi. Waktu itu rasanya kayak nggak tentu arah, mengambil benang-benang longgar yang nggak sempat dikerjakan orang lain, menawarkan bantuan buat hal-hal yang secara teknis di luar deskripsi pekerjaan saya. Kalau diingat lagi, justru itu cara saya belajar bentuk tempat itu lebih cepat dari dokumen onboarding mana pun, karena saya akhirnya menyentuh hampir setiap bagiannya sebelum saya secara resmi jadi milik satu bagian tertentu.
I leaned on a stoic reassurance during that undefined stretch, that discomfort with ambiguity is a feeling, not a fact, and feelings pass whether or not the ambiguity resolves on my schedule. I couldn't control how quickly the role would take shape. I could control whether I spent that in-between time useful and calm, or anxious and frozen. Choosing the former, even when it didn't come naturally, made the waiting itself far less painful.
Saya berpegang ke ketenangan stoa selama masa yang nggak jelas itu, bahwa ketidaknyamanan dengan ambiguitas itu perasaan, bukan fakta, dan perasaan itu berlalu, terlepas dari apakah ambiguitasnya selesai sesuai jadwal saya. Saya nggak bisa mengendalikan seberapa cepat perannya bakal terbentuk. Yang bisa saya kendalikan adalah apakah saya menghabiskan waktu di antara itu dengan berguna dan tenang, atau cemas dan beku. Memilih yang pertama, walaupun itu nggak datang secara alami, bikin penantiannya sendiri jauh lebih ringan.
"Discomfort with ambiguity is a feeling, not a fact, and feelings pass whether or not the ambiguity resolves on your schedule." "Ketidaknyamanan dengan ambiguitas itu perasaan, bukan fakta, dan perasaan itu berlalu, terlepas dari apakah ambiguitasnya selesai sesuai jadwalmu."
I could have waited quietly for someone to define my role for me. I didn't, mostly because I genuinely liked the people I was meeting in that early stretch, and helping them felt like the most natural way to get to know them. That instinct, to be useful to people because I care about them rather than because a job description says I should, has never really left me. It's closer to who I am than any title has ever been.
Saya bisa aja diam-diam menunggu ada yang mendefinisikan peran saya buat saya. Saya nggak melakukan itu, sebagian besar karena saya beneran suka sama orang-orang yang saya temui di masa awal itu, dan membantu mereka terasa seperti cara paling alami buat mengenal mereka. Insting itu, buat berguna ke orang karena saya peduli sama mereka, bukan karena deskripsi pekerjaan bilang saya harus, nggak pernah benar-benar meninggalkan saya. Itu lebih dekat ke siapa saya sebenarnya dibanding jabatan mana pun yang pernah saya punya.
I stopped being afraid of that early quiet after that. It's not a sign something's wrong. It's just the shape of starting somewhere new, and looking back, it's one of the seasons I actually enjoyed the most, precisely because nothing was fixed yet and everything still felt possible.
Saya berhenti takut sama kesunyian awal itu setelahnya. Itu bukan tanda ada yang salah. Itu cuma bentuk dari memulai sesuatu yang baru, dan kalau diingat lagi, itu salah satu musim yang paling saya nikmati, justru karena belum ada yang tetap dan segalanya masih terasa mungkin.