There was a stretch where I was present every day and absent from most of it at the same time. I didn't notice how far gone I was until something forced me to, a strange kind of functioning where I could complete every task on a list and still not be able to recall, hours later, what any of it had actually felt like.
Ada satu masa di mana saya hadir setiap hari, tapi sebenarnya nggak benar-benar ada di sebagian besar waktunya. Saya nggak sadar seberapa jauh keadaan saya sampai ada sesuatu yang memaksa saya buat sadar, semacam cara berfungsi yang aneh, di mana saya bisa menyelesaikan setiap tugas di daftar dan tetap nggak bisa mengingat, beberapa jam kemudian, rasanya semua itu sebenarnya seperti apa.
It doesn't feel dramatic from the inside. It feels like getting through the day, one task at a time, without really being anywhere. Looking back, I can barely remember details from that stretch, which is its own kind of evidence of how absent I was, a whole season reduced in memory to a grey, featureless blur.
Dari dalam, rasanya nggak dramatis. Rasanya cuma seperti melewati hari, satu tugas demi satu tugas, tanpa benar-benar ada di mana pun. Kalau diingat lagi, saya hampir nggak ingat detail dari masa itu, yang justru jadi bukti tersendiri seberapa jauh saya sebenarnya nggak hadir, satu musim penuh yang di ingatan berubah jadi kabur berwarna abu-abu tanpa bentuk.
I leaned on a stoic gratitude, oddly enough, for whatever it was that finally interrupted the autopilot, because without that interruption I might have stayed numb far longer than I did. I chose to see that forced wake-up not as a punishment but as a kind of mercy, the universe or my own body finally insisting on something my mind had refused to admit on its own. Trusting that everything, even a hard interruption, arrives carrying some usable lesson made it easier to be grateful for the wake-up instead of resentful of the fall that preceded it.
Anehnya, saya berpegang ke rasa syukur stoa, buat apa pun yang akhirnya menginterupsi autopilot itu, karena tanpa interupsi itu saya mungkin akan tetap mati rasa jauh lebih lama dari yang sebenarnya terjadi. Saya memilih melihat kebangkitan paksa itu bukan sebagai hukuman tapi sebagai semacam belas kasih, semesta atau tubuh saya sendiri yang akhirnya bersikeras soal sesuatu yang pikiran saya menolak mengakuinya sendiri. Percaya bahwa segala hal, bahkan interupsi yang berat, datang membawa pelajaran yang bisa dipakai bikin lebih gampang buat bersyukur atas kebangkitannya, bukannya membenci kejatuhan yang mendahuluinya.
"Autopilot doesn't feel dramatic while it's happening. That's exactly what makes it dangerous, and exactly why the interruption, however hard, is worth being grateful for." "Autopilot nggak terasa dramatis waktu sedang terjadi. Justru itu yang membuatnya berbahaya, dan justru itu kenapa interupsinya, seberat apa pun, layak disyukuri."
These days, I check in with myself more often, before it gets to that point. It's a small habit that's made a real difference, a few honest minutes most days spent simply asking how I actually am, which has become one of the quieter, sturdier forms of self-love I practice now.
Sekarang, saya lebih sering mengecek keadaan diri sendiri, sebelum sampai ke titik itu. Kebiasaan kecil itu ternyata membuat perbedaan yang nyata, beberapa menit jujur di sebagian besar hari, cuma buat bertanya bagaimana sebenarnya keadaan saya, yang jadi salah satu bentuk kecintaan diri yang lebih tenang dan lebih kokoh yang saya praktikkan sekarang.