← All letters
What the Body Knew

The Body Keeping Score When the Mind Won't Slow Down

June 2026·7 min read
English & Bahasa Indonesia

I used to think I could push through anything as long as my head was still working. My body had other plans, and it turned out to be a far more honest narrator of my actual condition than my own determined thoughts ever were.

Dulu saya pikir saya bisa memaksakan diri melewati apa pun, asal kepala saya masih bisa berpikir. Tubuh saya ternyata punya rencana lain, dan ternyata jadi pencerita yang jauh lebih jujur soal kondisi saya yang sebenarnya, dibanding pikiran saya yang keras kepala.

When the body gets loudWaktu tubuh mulai berteriak

It started quietly, tension headaches, disrupted sleep, a stomach that never fully settled. I ignored all of it for longer than I should have, because none of it stopped me from technically getting the work done. Eventually it got loud enough that I couldn't ignore it anymore, and by then it was demanding attention with an insistence I hadn't given it the chance to earn gradually.

Awalnya diam-diam, sakit kepala karena tegang, tidur yang terganggu, perut yang nggak pernah benar-benar tenang. Saya mengabaikan semua itu lebih lama dari yang seharusnya, karena nggak ada satupun yang secara teknis menghentikan saya dari tetap menyelesaikan pekerjaan. Akhirnya, semuanya jadi cukup keras sampai saya nggak bisa lagi mengabaikannya, dan saat itu ia menuntut perhatian dengan kegigihan yang nggak sempat saya beri kesempatan buat didapatkan secara bertahap.

What I came to believe the body was telling meYang saya jadi percaya sedang disampaikan tubuh saya

I leaned on a quietly spiritual understanding of what was happening, that the body doesn't lie the way circumstances or other people sometimes can, and that its insistence was actually a form of loyalty, refusing to let me abandon myself even when my own mind was willing to. I trusted that listening to it earlier wasn't giving up, it was finally honoring a part of myself that had been faithfully trying to protect me the entire time, long before I gave it any credit for doing so.

Saya berpegang ke pemahaman yang diam-diam spiritual soal apa yang terjadi, bahwa tubuh nggak berbohong seperti yang kadang bisa dilakukan keadaan atau orang lain, dan kegigihannya sebenarnya bentuk kesetiaan, menolak membiarkan saya meninggalkan diri saya sendiri bahkan waktu pikiran saya sendiri bersedia melakukannya. Saya percaya mendengarkannya lebih awal bukan menyerah, itu akhirnya menghormati bagian dari diri saya yang dengan setia sudah mencoba melindungi saya sepanjang waktu, jauh sebelum saya memberinya pengakuan atas itu.

"The body doesn't negotiate the way the mind does. Eventually it just insists, and that insistence is its own form of loyalty." "Tubuh nggak bernegosiasi seperti pikiran. Pada akhirnya, dia cuma memaksa, dan paksaan itu adalah bentuk kesetiaan tersendiri."

I listen to those early signals now, the headache, the tight jaw, the shallow sleep, long before they get loud enough to force a stop. It's become one of the ways I show love to myself, treating those small early signals with the same seriousness I'd give a message from someone I genuinely cared about, because that's exactly what they are.

Sekarang saya mendengarkan sinyal-sinyal awal itu, sakit kepala, rahang yang tegang, tidur yang dangkal, jauh sebelum semuanya cukup keras buat memaksa saya berhenti. Itu jadi salah satu cara saya menunjukkan cinta ke diri saya sendiri, memperlakukan sinyal-sinyal awal kecil itu dengan keseriusan yang sama yang akan saya berikan ke pesan dari seseorang yang beneran saya pedulikan, karena memang itulah sebenarnya sinyal-sinyal itu.

Has something like this shaped how you see work now? I'd like to hear it, drop it in the comments or reach out.

Ada momen kerja yang mengubah cara pandangmu juga? Cerita di komentar atau hubungi saya langsung.
Read it your way
Lens
Mode
Density
Try Recruiter + Compact for a 30-second skim.