← All letters
My Own North Star

The First Job I Thought I'd Keep Forever

August 2026·5 min read
English & Bahasa Indonesia

I have never been an ambitious person, though it took me years to understand that about myself. I am someone who works by heart. When I love what I do, I stop looking anywhere else. My very first job was like that, and for a long time I quietly believed I would grow old there.

Saya nggak pernah jadi orang yang ambisius, walaupun butuh bertahun-tahun buat saya paham itu tentang diri sendiri. Saya orang yang kerja pakai hati. Kalau saya cinta sama yang saya kerjakan, saya berhenti nyari yang lain. Kerjaan pertama saya kayak gitu, dan lama saya diam-diam percaya bakal menua di sana.

A small team that felt like familyTim kecil yang terasa seperti keluarga

We were a small group, and it never felt like a company to me. It felt like family. I was young and still a little naive, and I loved it so completely that I didn't think about the future at all. I wasn't building toward anything. I was simply happy where I was, and back then that was enough.

Kami cuma kelompok kecil, dan buat saya itu nggak pernah kerasa kayak perusahaan. Rasanya kayak keluarga. Saya masih muda dan masih agak naif, dan saya cinta banget sampai saya nggak mikirin masa depan sama sekali. Saya nggak lagi ngebangun apa-apa. Saya cuma bahagia di tempat saya, dan waktu itu udah cukup.

What actually moves meApa yang sebenarnya menggerakkan saya

That season taught me something I still carry: I only move when staying becomes too painful to watch. I don't leave the things I love because something shinier appears. I leave when the thing I love stops being what it was, and staying would mean pretending. It took COVID, and the company being liquidated, to teach me that even the things we would keep forever are not always ours to keep.

Musim itu ngajarin saya sesuatu yang masih saya bawa: saya cuma pindah kalau bertahan udah terlalu sakit buat dilihat. Saya nggak ninggalin hal yang saya cintai cuma karena ada yang lebih berkilau. Saya pergi waktu hal yang saya cintai berhenti jadi dirinya, dan bertahan cuma bakal jadi pura-pura. Butuh COVID, dan perusahaannya dilikuidasi, buat ngajarin saya kalau bahkan hal yang mau kita jaga selamanya nggak selalu jadi milik kita buat dijaga.

“I don't leave what I love for something better. I only leave when staying would mean pretending.” “Saya nggak ninggalin yang saya cintai demi yang lebih baik. Saya cuma pergi waktu bertahan berarti pura-pura.”

What I kept when it endedYang saya simpan waktu itu selesai

When it ended, I grieved it the way you grieve a home. But I kept the proof of who I am at work: someone who gives everything to what she loves and asks for very little in return. That naivety cost me later, in ways I'm still writing about. But I've never wanted to trade away the part of me that can love a place that fully. I've only learned to point it somewhere safer.

Waktu itu selesai, saya berduka kayak berduka kehilangan rumah. Tapi saya simpan bukti tentang siapa saya waktu kerja: orang yang ngasih semuanya buat yang dia cintai dan minta sangat sedikit sebagai balasannya. Kenaifan itu ada harganya belakangan, dengan cara-cara yang masih saya tulis. Tapi saya nggak pernah mau nuker bagian diri saya yang bisa mencintai satu tempat sepenuh itu. Saya cuma belajar buat ngarahinnya ke tempat yang lebih aman.

Has a chapter like this reshaped who you are becoming? I'd like to hear it, drop it in the comments or reach out.

Ada bab hidup yang membentuk ulang dirimu juga? Cerita di komentar atau hubungi saya langsung.
Read it your way
Lens
Mode
Density
Try Recruiter + Compact for a 30-second skim.