I found out, almost by accident, that a meeting had happened about the future of my own project, and I hadn't been in the room for it. Not left out with any announcement or explanation, simply left off a list, the way you'd forget to invite someone whose presence had quietly stopped registering as necessary.
Saya jadi tahu, hampir secara nggak sengaja, kalau sebuah meeting sudah terjadi soal masa depan proyek saya sendiri, dan saya nggak ada di ruangan itu. Bukan dikeluarkan dengan pengumuman atau penjelasan apa pun, cuma nggak dimasukkan ke daftar, dengan cara yang sama kayak kamu lupa mengundang seseorang yang kehadirannya diam-diam berhenti terasa perlu.
There's a very particular sting in learning that decisions about your own work were made in a room you weren't invited into, decisions you'll be expected to carry out regardless of whether you agree with them. It's a quiet demotion that never shows up on any org chart, and it's almost impossible to name out loud without sounding like you're overreacting to a simple scheduling oversight.
Ada rasa sakit yang sangat spesifik waktu tahu keputusan soal pekerjaan kamu sendiri dibuat di ruangan yang nggak kamu diundang masuk, keputusan yang bakal diharapkan kamu jalankan terlepas dari apakah kamu setuju atau enggak. Itu penurunan pangkat yang diam-diam nggak pernah muncul di bagan organisasi mana pun, dan hampir mustahil disebutkan dengan lantang tanpa terdengar seperti bereaksi berlebihan ke sekadar kelalaian jadwal biasa.
I leaned on a stoic clarity here, that I couldn't control whether I was included in that particular room, only how I carried myself once I learned I hadn't been. I also trusted something spiritual underneath the sting, a belief that being quietly excluded from a conversation about my own future was, however painful, also a form of information, the room was telling me something true about where I stood, and I was better off hearing that truth clearly than continuing to operate on a hope that wasn't accurate anymore.
Saya berpegang ke kejelasan stoa di sini, bahwa saya nggak bisa mengendalikan apakah saya diikutsertakan di ruangan itu, cuma bisa mengendalikan bagaimana saya membawa diri begitu tahu saya nggak diikutsertakan. Saya juga percaya sesuatu yang spiritual di balik rasa sakitnya, keyakinan bahwa diam-diam dikeluarkan dari percakapan soal masa depan saya sendiri, sesakit apa pun, juga bentuk informasi, ruangan itu sedang memberi tahu saya sesuatu yang benar soal posisi saya, dan saya lebih baik mendengar kebenaran itu dengan jelas dibanding terus beroperasi atas harapan yang udah nggak lagi akurat.
"Being quietly excluded from a conversation about your own future is also a form of information. It's better to hear that truth clearly than keep operating on a hope that isn't accurate anymore." "Diam-diam dikeluarkan dari percakapan soal masa depanmu sendiri juga bentuk informasi. Lebih baik mendengar kebenaran itu dengan jelas dibanding terus beroperasi atas harapan yang udah nggak lagi akurat."
I could have made a scene about being excluded, insisted on being looped back in, fought for a seat at a table that clearly didn't want me at it anymore. I chose not to, not out of resignation, but because I'd rather spend my energy building toward a table that actually wanted me there, and I trusted, with something close to faith, that such a table existed and was closer than it looked from inside that particular disappointment.
Saya bisa aja membuat keributan soal dikeluarkan, bersikeras diikutsertakan lagi, berjuang buat kursi di meja yang jelas-jelas udah nggak menginginkan saya lagi. Saya memilih nggak melakukannya, bukan karena menyerah, tapi karena saya lebih baik menghabiskan energi saya buat membangun menuju meja yang beneran menginginkan saya di sana, dan saya percaya, dengan sesuatu yang dekat dengan keyakinan, bahwa meja semacam itu ada dan lebih dekat dari yang terlihat dari dalam kekecewaan itu.
That meeting I wasn't invited to turned out to be one of the clearest signals in the whole season, and I'm grateful for it now, strange as that sounds, because it's exactly what let me stop waiting for a seat that was never coming back.
Meeting yang nggak saya diundang itu ternyata jadi salah satu sinyal paling jelas di seluruh musim itu, dan saya bersyukur karenanya sekarang, seaneh apa pun kedengarannya, karena itu persis yang membiarkan saya berhenti menunggu kursi yang nggak akan pernah kembali.