I knew I was going to leave long before I told anyone, including myself, out loud. The decision doesn't arrive as a dramatic moment, the way it looks in the stories people tell afterward, with a slammed laptop or a tearful confrontation. It arrives more like weather changing, gradually enough that you only notice the new season once you're already standing in it.
Saya udah tahu bakal resign jauh sebelum saya bilang ke siapa pun, termasuk ke diri saya sendiri secara terang-terangan. Keputusan itu nggak datang sebagai momen dramatis, beda dari yang biasanya diceritakan orang belakangan, dengan laptop yang dibanting atau konfrontasi yang berurai air mata. Itu datang lebih mirip cuaca yang berubah, cukup bertahap sampai kamu baru sadar musim barunya udah tiba begitu kamu sudah berdiri di dalamnya.
It arrives quietly, in an ordinary moment that doesn't feel significant until much later. Everything after that point is just timing, finishing what needs finishing, waiting for the right moment to say the decision out loud, letting the outside world catch up to something that had already settled quietly on the inside.
Keputusan itu datang diam-diam, di momen biasa yang nggak terasa penting sampai jauh belakangan. Semua yang terjadi setelah momen itu cuma soal waktu, menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan, menunggu momen yang pas buat mengucapkan keputusan itu keras-keras, membiarkan dunia luar menyusul sesuatu yang sebenarnya sudah lebih dulu mengendap diam-diam di dalam.
I leaned on a stoic patience during that in-between period, trusting that I didn't owe anyone an announcement before I was ready to give one, and that the timing of my own honesty was mine to control even when so much else at work wasn't. I also trusted something more spiritual underneath that, a sense that the season closing was not a failure but a natural completion, the same way any chapter eventually reaches its end when it has given what it came to give.
Saya berpegang ke kesabaran stoa selama periode di antara itu, percaya bahwa saya nggak berutang pengumuman ke siapa pun sebelum saya siap memberikannya, dan bahwa waktu buat kejujuran saya sendiri sepenuhnya di tangan saya, bahkan waktu begitu banyak hal lain di kantor enggak. Saya juga percaya sesuatu yang lebih spiritual di baliknya, perasaan bahwa musim yang menutup itu bukan kegagalan tapi penyelesaian yang alami, sama seperti bab mana pun akhirnya mencapai akhirnya waktu sudah memberikan apa yang dia datang buat berikan.
"The decision rarely arrives loudly. Usually you only recognize it in hindsight, much later than it actually happened, and the timing of your own honesty is yours to control." "Keputusan itu jarang datang dengan gegap gempita. Biasanya kamu baru menyadarinya belakangan, jauh setelah keputusan itu sebenarnya sudah terjadi, dan waktu buat kejujuranmu sendiri ada di tanganmu."
Looking back, I can point to the exact quiet moment it happened. At the time, I had no idea how much had already been decided, and I've come to find something almost peaceful in that, that the wisest choices I've made didn't arrive with fanfare, they arrived quietly, and were simply honored once I was ready to speak them.
Kalau diingat lagi, saya bisa menunjuk momen sepi itu persis. Padahal waktu itu, saya sama sekali nggak sadar berapa banyak yang sebenarnya sudah diputuskan, dan saya jadi menemukan sesuatu yang hampir tenang dari itu, bahwa pilihan-pilihan paling bijaksana yang pernah saya buat nggak datang dengan gegap gempita, mereka datang diam-diam, dan cuma dihormati begitu saya siap mengucapkannya.