Nobody gave me a new title. Just more of everything, one gap at a time, until the actual job and the job I was quietly doing looked nothing alike. Nobody plans to end up there, and by the time I noticed the distance between the two, it felt too far to explain to anyone in a single conversation.
Nggak ada yang ngasih saya jabatan baru. Cuma makin banyak dari segalanya, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya pekerjaan yang tertulis dan pekerjaan yang diam-diam saya lakukan udah beda jauh. Nggak ada yang berencana buat berakhir di situ, dan begitu saya sadar jaraknya, rasanya udah terlalu jauh buat dijelaskan ke siapa pun dalam satu percakapan.
It happens one reasonable-sounding "can you just help with this" at a time. Each request on its own is small, easy to say yes to. It's only when you add them up months later that you realize the shape of your actual job has quietly changed without a conversation ever happening about it, or a title ever catching up to match what you'd actually become.
Semuanya bermula dari satu "bisa tolong bantu ini sebentar" yang kedengarannya wajar, satu per satu. Setiap permintaan kelihatan kecil, gampang diiyakan. Baru pas semuanya ditotal berbulan-bulan kemudian, kamu sadar bentuk pekerjaanmu udah diam-diam berubah, tanpa pernah ada percakapan resmi soal itu, atau jabatan yang pernah menyusul buat menyesuaikan dengan siapa kamu sebenarnya sudah jadi.
I leaned on a stoic reframe once I noticed how much had accumulated: the title on paper is outside my control, but the actual skill I was quietly building was entirely mine to keep, regardless of what anyone called it. I chose to see all three unofficial jobs not as exploitation to resent, but as a genuinely accelerated education, one I couldn't have paid for and wouldn't trade, even though I wish it had come with fair recognition attached.
Saya berpegang ke pembingkaian ulang stoa begitu saya sadar berapa banyak yang sudah menumpuk: jabatan di atas kertas ada di luar kendali saya, tapi kemampuan sebenarnya yang diam-diam saya bangun sepenuhnya milik saya buat disimpan, terlepas dari apa pun sebutannya. Saya memilih melihat ketiga pekerjaan nggak resmi itu bukan sebagai eksploitasi yang harus dibenci, tapi sebagai pendidikan yang beneran dipercepat, yang nggak akan bisa saya beli dan nggak akan saya tukar, walaupun saya berharap itu datang dengan pengakuan yang adil.
"A role doesn't usually change all at once. It changes one yes at a time until you don't recognize it, but the skill you build along the way is entirely yours to keep." "Sebuah peran biasanya nggak berubah sekaligus. Dia berubah satu "iya" demi satu "iya", sampai akhirnya kamu nggak lagi mengenalinya, tapi kemampuan yang kamu bangun di sepanjang jalan itu sepenuhnya milikmu buat disimpan."
I kept saying yes, in large part, because I genuinely cared about the people whose work would have suffered if I hadn't. I wasn't performing dedication for anyone's benefit, I actually loved doing the work well and hated the idea of something falling through the cracks that I could have caught. Looking back, that motivation, love for the people and the work rather than fear of disappointing someone, is what kept the exhaustion from turning into resentment.
Saya tetap mengiyakan, sebagian besar, karena saya beneran peduli sama orang-orang yang pekerjaannya bakal terganggu kalau saya enggak. Saya nggak sedang memerankan dedikasi buat kepentingan siapa pun, saya beneran suka mengerjakan sesuatu dengan baik dan benci ide ada yang terlewat padahal bisa saya tangkap. Kalau diingat lagi, motivasi itu, cinta ke orang-orang dan ke pekerjaannya, bukan takut mengecewakan seseorang, itulah yang menjaga kelelahannya supaya nggak berubah jadi kebencian.
I still say yes to things that need doing. I just check in with myself more honestly now about what the total is actually adding up to, grateful for everything those overlapping jobs taught me, while also finally asking, out loud, for the title to eventually match the work.
Saya masih tetap mengiyakan hal-hal yang memang perlu dikerjakan. Saya cuma sekarang lebih jujur mengecek ke diri sendiri, totalnya sebenarnya udah jadi apa, bersyukur atas semua yang diajarkan pekerjaan-pekerjaan yang tumpang tindih itu, sambil akhirnya juga meminta, dengan suara keras, supaya jabatannya akhirnya menyesuaikan dengan pekerjaannya.