My parents told me, as early as April, that I should resign. They weren't being dramatic, they meant it plainly and out of genuine concern, watching from a distance as things kept getting harder for me in ways they could hear clearly even over the phone. I understood exactly why they said it. I still didn't leave.
Orang tua saya bilang, sejak April, kalau saya harus resign. Mereka nggak sedang berlebihan, mereka mengatakannya dengan sungguh-sungguh dan dari kekhawatiran yang tulus, menyaksikan dari jauh sementara keadaan terus jadi lebih berat buat saya dengan cara yang bisa mereka dengar dengan jelas bahkan lewat telepon. Saya paham persis kenapa mereka bilang begitu. Saya tetap nggak pergi.
There was a project I'd been carrying for a long time, one I genuinely cared about finishing, not for anyone's approval, but because I couldn't stand the idea of walking away from something unfinished simply because staying had become uncomfortable. Leaving in the middle of it would have protected my comfort. It wouldn't have protected the part of me that needed to see it through.
Ada sebuah proyek yang sudah lama saya bawa, yang beneran saya pedulikan buat diselesaikan, bukan demi persetujuan siapa pun, tapi karena saya nggak tahan sama ide meninggalkan sesuatu yang belum selesai cuma karena bertahan sudah jadi nggak nyaman. Pergi di tengah jalan akan melindungi kenyamanan saya. Itu nggak akan melindungi bagian dari diri saya yang butuh melihatnya sampai tuntas.
I leaned on a stoic clarity in weighing their advice, that my parents' concern for my wellbeing was completely valid, and my own instinct to finish what I'd started was also completely valid, and the two weren't actually in conflict the way they seemed to be on the surface. I could protect my wellbeing by setting a clear line for how much longer I'd stay, while still honoring the part of me that needed to close that chapter on my own terms rather than someone else's timeline.
Saya berpegang ke kejelasan stoa waktu menimbang nasihat mereka, bahwa kekhawatiran orang tua saya soal kesejahteraan saya sepenuhnya sah, dan insting saya sendiri buat menyelesaikan apa yang sudah saya mulai juga sepenuhnya sah, dan dua hal itu sebenarnya nggak bertentangan seperti yang terlihat di permukaan. Saya bisa melindungi kesejahteraan saya dengan menetapkan batas yang jelas soal berapa lama lagi saya akan bertahan, sambil tetap menghormati bagian dari diri saya yang butuh menutup bab itu dengan cara saya sendiri, bukan jadwal orang lain.
"Their concern for my wellbeing and my instinct to finish what I'd started weren't actually in conflict. I could honor both." "Kekhawatiran mereka soal kesejahteraan saya dan insting saya buat menyelesaikan apa yang sudah saya mulai sebenarnya nggak bertentangan. Saya bisa menghormati keduanya."
Staying to finish that project, even through a genuinely hard April, gave me something I don't think leaving early would have, the certainty that I hadn't run from anything, that whatever happened after was a clean, deliberate choice rather than an escape. When the shift into my new role finally came through officially in May, I got to walk into it with that project closed behind me, not dangling, and my parents, who'd once told me to leave, were the first people I called to say it was finished.
Bertahan buat menyelesaikan proyek itu, bahkan melewati April yang beneran berat, memberi saya sesuatu yang rasanya nggak akan saya dapatkan kalau pergi lebih awal, kepastian bahwa saya nggak lari dari apa pun, bahwa apa pun yang terjadi setelahnya adalah pilihan yang bersih dan disengaja, bukan pelarian. Waktu perpindahan ke peran baru saya akhirnya resmi terjadi di Mei, saya bisa masuk ke situ dengan proyek itu sudah tertutup di belakang saya, bukan menggantung, dan orang tua saya, yang dulu pernah bilang buat pergi, adalah orang pertama yang saya telepon buat bilang itu sudah selesai.
I'm grateful they were honest enough to tell me what they saw, and equally grateful they trusted me enough, once I explained why I was staying, to let me finish it my way. Both things were true at once, their love and my choice, and I think that's exactly how it should have been.
Saya bersyukur mereka cukup jujur buat bilang apa yang mereka lihat, dan sama bersyukurnya mereka cukup percaya sama saya, begitu saya menjelaskan kenapa saya bertahan, buat membiarkan saya menyelesaikannya dengan cara saya sendiri. Dua-duanya benar di saat bersamaan, cinta mereka dan pilihan saya, dan saya rasa memang begitu seharusnya.