Everyone else logged off. I didn't, because the work didn't stop needing to get done and I didn't know how to let it wait. At the time it felt like commitment. Looking back, I wonder who that was actually helping, and whether the version of me who couldn't let anything wait was being brave or just afraid of what would happen if she did.
Semua orang libur. Saya enggak, karena kerjaannya nggak berhenti butuh diselesaikan dan saya nggak tahu caranya membiarkan itu nunggu. Waktu itu rasanya kayak bentuk komitmen. Kalau dipikir lagi sekarang, saya jadi bertanya, itu sebenarnya membantu siapa, dan apakah versi diri saya yang nggak bisa membiarkan apa pun menunggu itu berani, atau justru takut sama apa yang bakal terjadi kalau dia menunggu.
I told myself I was choosing to work, but looking back it didn't feel like much of a choice at all. The urgency always felt real in the moment. Most of it, in hindsight, could have waited a few days without anything actually breaking, and the version of me sitting there refreshing my inbox on a holiday morning wasn't protecting anyone, just performing a kind of readiness nobody had actually asked for.
Saya bilang ke diri sendiri kalau saya "memilih" buat kerja, tapi kalau diingat lagi, rasanya itu bukan pilihan sama sekali. Urgensinya selalu terasa nyata di momen itu. Kalau dilihat sekarang, kebanyakan sebenarnya bisa nunggu beberapa hari tanpa ada yang beneran rusak, dan versi diri saya yang duduk sambil terus mengecek kotak masuk di pagi libur itu nggak sedang melindungi siapa pun, cuma memerankan semacam kesiapan yang sebenarnya nggak diminta siapa pun.
I leaned on a quieter, more spiritual understanding eventually, that my worth was never actually tied to how much I sacrificed, no matter how convincingly it felt that way in the moment. Rest, I came to believe, isn't the opposite of dedication, it's what lets dedication stay honest and sustainable instead of curdling into quiet self-erasure. Once I trusted that the work I loved would still be there, still matter, even if I stepped away from it for a day, resting stopped feeling like abandonment and started feeling like respect, both for the work and for myself.
Akhirnya saya berpegang ke pemahaman yang lebih tenang dan lebih spiritual, bahwa nilai diri saya sebenarnya nggak pernah terikat sama seberapa banyak yang saya korbankan, sepersuasif apa pun rasanya begitu di momen itu. Istirahat, saya jadi percaya, bukan lawan dari dedikasi, itu justru yang membiarkan dedikasi tetap jujur dan berkelanjutan, bukannya berubah jadi penghapusan diri yang diam-diam. Begitu saya percaya kalau pekerjaan yang saya cintai bakal tetap ada, tetap berarti, walaupun saya menjauh darinya sehari, istirahat berhenti terasa seperti pengabaian dan mulai terasa seperti penghormatan, buat pekerjaannya maupun buat diri saya sendiri.
"Urgency in the moment and urgency in hindsight are almost never the same thing. Rest isn't the opposite of dedication, it's what keeps dedication honest." "Urgensi yang terasa saat itu dan urgensi kalau dilihat belakangan, hampir nggak pernah sama. Istirahat bukan lawan dari dedikasi, itu justru yang menjaga dedikasi tetap jujur."
I still work hard during busy periods. I just no longer assume that everything marked urgent actually is, and I let myself rest even when someone else hasn't given me permission to, trusting that the same love for the work that once kept me logged in on a holiday can also, just as legitimately, tell me to log off.
Saya masih tetap kerja keras waktu periode sibuk. Saya cuma udah nggak lagi menganggap semua yang dilabeli "urgent" itu beneran urgent, dan saya mengizinkan diri saya sendiri istirahat, walaupun nggak ada yang secara resmi mengizinkan, percaya bahwa kecintaan yang sama ke pekerjaan yang dulu menjaga saya tetap login di hari libur, sekarang juga, dengan sama sahnya, bisa bilang ke saya buat logout.